July 2, 2022

Berita Agam

Kabar Terbaik Untuk Anda

Membangkitkan Pertumbuhan Ekonomi Dengan Mengoptimalkan Fungsi Pasar

4 min read

Beritaagam.com-Omico Ichiba, itu nama satu-satunya pasar tradisional yang ada di kota Kanazawa, ibu Kota Provinsi Ishikawa, Jepang. Mungkin karena satu-satunya pasar tradisional, pasar ini ramai dikunjungi turis lokal maupun mancanegara.

Ukuran pasarnya tidak terlalu besar. Kurang lebih seukuran pasar Alai di Padang. Restoran, pedagang baju, pedagang ikan, pedagang ayam, pedagang sayur, pedagang buah, dan pedagang lainnya bercampur jadi satu. Tapi tétap rapi dan bersih. Tidak ada air berceceran, becek dan bau dari pedagang ikan. Pasar ini benar-benar bersih dan rapi. Maka tidak heran diakhir pekan pasar ini penuh oleh wisatawan.

Jangan bayangkan ada mobil, motor atau sepeda parkir di pinggir jalan disekitar pasar itu. Semua kendaraaan terparkir rapi ditempat yang sudah disediakan. Jangan bayangkan juga ada pedagang yang jualan lesehan di sembarang tempat. Semua tertata dengan rapi, tertib, bersih dan tentunya aman. Tidak ada copet walaupun tidak ada petugas keamanan berkeliaran menjaga dan mengawasi pasar itu.

Tempat bertemunya pembeli dan penjual kebutuhan sehari-hari lainnya di Jepang sudah modern dalam bentuk minimarket dan supermarket yang tersebar diberbagai lokasi. Tetapi belanja di tempat ini konsumen dikenakan pajak antara 8%-10%. Sedangkan di pasar tradisional Omico tidak.

Walau pasar tradisonalnya hanya ada satu dan kecil, tetapi minimarket dan supermarket yang ada cukup banyak, tidak terlalu sulit mencarinya. Tetapi merknya tidak banyak. Artinya, satu merk bisa memiliki banyak tempat. Untuk minimarket, merk yang merajai adalah 7Eleven dan FamilyMart. Di sana minimarket disebut Kombini. Di Kombini konsumen tidak saja bisa membeli barang, tetapi juga bisa bayar pajak, bayar tiket kereta, fotocopy dll. Sedangkan untuk supermarket merk yang banyak ada adalah Albis dan Aeon. Bahkan Aeon sudah ekspansi ke Jakarta.

Walaupun sedikit pelaku usaha terlibat di industri perdagangan kebutuhan sehari-hari (pasar), Jepang tetap bisa memberi BLT 100.000 Yen, setara Rp. 13.000.000 juta kepada setiap warga (bukan setiap keluarga) akibat covid 19. Jika pasar tradisional dioptimalkan lebih jauh tentu lebih-lebih lagi meningkat perekonomian masyarakatnya.

Di tempat kita, pasar tradisional banyak. Itu artinya peluang perputaran uang mestinya juga banyak. Pasar yang produktif dan dikelola secara profesional akan mendorong potensi ekonomi karena banyak pihak yang terlibat di pasar, baik pembeli, penjual dan distribusi.

Beberapa waktu lulu saya ke Pasar Raya Padang untuk berbelanja sayur mayur. Secara fisik sudah bertingkat dan modern, tapi pengelolaanya tampak masih belum profesional dan sepenuh hati.

Bangunan pasar sebenarnya menyediakan parkir tapi sepi, masyarakat lebih tertarik parkir di pinggir jalan sehingga menyebabkan sedikit kemacetan. Awalnya kami sedikit bingung karena tidak ada mobil keluar masuk area parkir, tidak ada juga petugas yang mengarahkan. Jika ada petugas yang mengarahkan pengunjung untuk parkir di bangunan pasar tentu jalanan tidak penuh dengan kendaraan yang parkir dan tidak akan menyebabkan macet juga.

Kios dan los yang ada belum terisi optimal, bahkan di sebuah lantai sebagian besar losnya kosong. Kios dan Los yang banyak kosong itu terlihat kotor yang pastinya membuat konsumen malas melintas. Sebagian pedagang tampaknya lebih tertarik berdagang di lantai dasar, bahkan ada yang menggelar dagangannya di tangga. Sehingga pasar yang direncanakan berfungsi secara modern itu jika dilihat ke dalam tampak masih “basilemak peak” tidak tertata dengan rapi dan bersih. Jika dilihat dari luar memang jau lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dimana pedagang tumpah sebagian di bahu jalan.

Sebagai salah satu nafas perekonomian, jika pasar tradisional ditata dan dikelola secara profesional akan membawa pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tetapi perlu kesadaran yang tinggi dari semua pihak, baik pemerintah sebagai pengelola, pedagang dan masyarakat sebagai konsumen. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan, diantaranya:

Pertama, menertibkan tempat parkir. Waktu kami parkir, petugasnya seorang perempuan, tidak berada di dalam pos parkir. Ia berdiri di luar berbaur sambil ngobrol dengan pedagang. Kami kira petugasnya tidak ada. Mungkin dia bosan di posnya karena tidak ada mobil yang lalu lalang. Bukti parkirpun tidak diberikan. Siapa yang menjamin uang parkir masuk ke kas pemerintah daerah.

Pengelola dapat mengarahkan masyarakat yang membawa kendaraaan untuk parkir di tempat yang telah disediakan. Jika diperlukan untuk beberapa waktu digratiskan untuk mengedukasi, mengenalkan dan pembiasaan parkir di tempat yang telah disediakan. Selain aman juga tidak menimbulkan macet dan dapat menjadi sumber pemasukan.

Kedua, mengoptimalkan fungsi toko, kios dan los yang ada di pasar raya agar terisi penuh. Pedagang yang masih berjualan di tempat yang tidak semestinya, seperti di tangga, di lorong, dan di tempat publik lainnya agar bisa diarahkan untuk mengisi los. Jika persoalan mereka adalah sewa toko, mungkin bisa diberi keringanan. Jika persoalannya kurangnya pengunjung, mungkin perlu dibantuan promosi dan informasi berkaitan dengan pedagang tersebut.

Ketiga, sediakan fasilitas publik yang memadai. Karena sekarang sedang musim covid, pengelola mesti menyediakan tempat untuk cuci tangan dan sabunnya. WC yang bersih dan tidak bau. Tempat sholat yang representatif. ATM yang bisa untuk tarik tunai dan setor tunai. Penerangan yang cukup. Ruang tunggu yang nyaman. Termasuk menyediakan kereta dorong bagi konsumen seperti di supermarket. Pengelola semestinya berupaya membuat pedagang dan konsumen nyaman sehingga perputaran uang terjadi maksimal di pasar tradisional.

Keempat, memberikan kemudahan bagi pedagang kecil berdagang di pasar raya. Pedagang kecil adalah pelaku usaha mikro yang menopang perekonomian daerah termasuk nasional. Mereka mesti diberikan fasillitas kemudahan. Khususnya kemudahan dalam memiliki toko, kios atau los terasuk kemudahan mendapatkan kredit dari perbankan. Untuk itu konversi Bank Nagari menjadi syariah menjadi sebuah keharusan menginggat sebagian besar warga Sumbar adalah Muslim yang berpedoman kepada adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah.

Kelima, berkomitmen dan tegas menegakkaan aturan. Walau kepala sama hitam tetapi hati dan pikiran setiap orang berbeda. Untuk itu pengelola mesti memiliki komitmen yang kuat menjadikan pasar raya tempat yang nyaman pedagang dan konsumen. Pengelola mesti memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pedagang dan konsumen. Termasuk tegas menerapkan aturan. Jika ada pedagang yang berjualan tidak pada tempatnya atau mengurangi timbanganya mesti ditindak tegas.

Jika semua pihak memahami pentingnya keberadaan pasar sebagai salah satu urat nadi perekonomian maka kita semua akan memiliki kesadaran yang tinggi untuk bahu membahu mengoptimalkan potensi pasar maka pertumbuhan ekonomi dapat dimaksimalkan karena perputaran uang terjadi di sini.

Yesi Elsandra
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Dharma Andalas

“Kirimkan tulisan Anda melalui email berikut ini: Admin@beritaagam.com”

Copyright © All rights reserved. |

Beritaagam.com