July 2, 2022

Berita Agam

Kabar Terbaik Untuk Anda

Mengenal Siti Manggopoh, Singa Betina Ranah Minang

2 min read

Profil
Siti Manggopoh, lahir di Manggopoh, Agam, Sumatera Barat, diperkirakan lahir pada tahun 1880 dan ada juga versi yang mengatakan lahir pada tahun 1885, beliau merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, semua saudaranya laki-laki.

Siti kecil tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang taat agama, seperti halnya rutinitas masyarakat kala itu, banyak menempa diri di surau, melengkapi diri dengan berbagai keterampilan termasuk ilmu bela diri.

Suami Siti bernama Rasyid Bagindo Magek, berasal dari kampung Masang yang mana lokasinya masih berada dalam wilayah Kabupaten Agam, mereka berjumpa ketika melayat seorang penghulu Nagari Manggopoh yang meninggal dunia. Pada tahun 1904, Siti dan Rasyid menikah dan melahirkan sepasang anak, yang laki-laki diberi nama Muhammad Yaman sedangkan yang perempuan diberi nama Dalima. Pekarangan rumah mereka dijadikan gelanggang silat, kelak gelanggang tersebut berhasil melahirkan pesilat-pesilat tangguh.

Perjuangan Melawan Kolonial Belanda

Hanya berselang 4 tahun dari pernikahannya, perjuangan Siti melawan Kolonial Belanda pun dimulai, tepatnya pada tahun 1908, ditahun itu Belanda menerapkan kebijakan belasting atau pajak yang semena-mena terhadap rakyat, di antaranya adalah hoofd belasting (pajak kepala), inkomsten belasting (pajak barang masuk/cukai), hedendisten (pajak rodi), dan wins belasting (pajak kemenangan/keuntungan). Selain itu, ada lagi meubels belasting (pajak rumah tangga), slach belasting (pajak penyembelihan), tabak belasting (pajak tembakau), dan adat huizen belasting (pajak rumah adat).

kebijakan yang menzalimi masyarakat inilah yang membuat Siti memberontak dan balik melawan Belanda, masyarakat merasa terhina dengan penerapan pajak yang mencekik atas berbagai aset seperti tanah yang telah turun temurun dimiliki masyarakat.

Akhirnya malam hari pada 16 Juni 1908, Siti Manggopoh bersama dengan pejuang lainnya mengkomandoi serangan terhadap Belanda yang sedang membuat jamuan malam, Siti berhasil masuk menyelinap manakala yang lain siaga di luar, Siti lalu mematikan lampu sambil memberi kode untuk pejuang lain memulai serangan. Alhasil serangan malam itu berhasil menewaskan puluhan prajurit Belanda, dan dari pihak Siti tidak ada satupun yang tewas.

Namun, ada 2 orang prajurit Belanda yang berhasil kabur ke Lubuk Basung pada malam itu dengan membawa luka serius disekujur tubuhnya, mereka kemudian meminta bantuan prajurit lain ke Bukittinggi dan Padang Pariaman. Belanda balik menyerang dan memporak-porandakan Manggopoh, masyarakat dibunuh termasuk juga pejuang yang ikut melakukan serangan bersama Siti.

Tak berselang lama, Siti pun akhirnya berhasil ditangkap Belanda ketika sedang berada di hutan bersama anaknya, begitu juga dengan suaminya Rasyid. Siti dan suaminya Rasyid kemudian dipenjara secara terpisah oleh Belanda, Siti dijebloskan ke penjara di Lubuk Basung sedangkan Rasyid dibuang ke Manado, setelah itu pasangan sejoli ini tidak pernah lagi bertemu hingga wafatnya.

Siti Manggopoh dipenjara berpindah-pindah, awalnya di Lubuk Basung selama 14 bulan, lalu dibawa ke penjara di Pariaman selama 16 bulan, kemudian dipindahkan ke penjara di Kota Padang selama 12 bulan, sebelum pada akhirnya dibebaskan.

Siti Manggopoh wafat pada 20 Agustus 1965 dan dimakamkan di makam pejuang di Nagari Manggopoh, di area tersebut juga berdiri Mesjid yang diberi nama mesjid Siti Manggopoh.

——————————-
Referensi:
1. https://www.liputan6.com/regional/read/4106334/mengenal-siti-manggopoh-singa-betina-dari-ranah-minang
2. https://republika.co.id/berita/q85cjn483/siti-manggopoh-mujahidah-perang-belasting-bagian-1
3. http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/murkanya-singa-betina-manggopoh/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. |

Beritaagam.com